Thursday, February 21, 2008
Mengenal Decoupling dan Imbas Global
Decoupling tidak lepas dari pengertian negara maju dan negara berkembang, tidak lepas pula dari outsourcing strategy yang banyak diimplementasikan oleh korporasi global. Decoupling juga sangat erat dengan kekuatan ekonomi Amerika sebagai pasar ekspor terbaik bagi negara yang memiliki produk bagus dan kompetitif di pasar global. Terakhir, decoupling juga erat kaitannya dengan kemajuan teknologi komunikasi dan internet yang telah membuat transaksi pasar keuangan Amerika menjadi lahan menjanjikan bagi trader di seluruh penjuru dunia.
Di tahun 2007, banyak pihak mengatakan bahwa ekonomi Uni Eropa telah menjadi bagian yang tidak terikat dengan ekonomi Amerika, telah terjadi decoupling sehingga pengaruh kedua belahan regional terhadap pertumbuhan dan kondisi masing-masing belahan menjadi tidak penting lagi. Begitu juga, ada pendapat yang mengatakan bahwa Cina telah sedemikian perkasa sehingga proses decoupling dengan ekonomi Amerika telah terjadi secara alamiah. Namun sejarah kejatuhan ekonomi Amerika di awal 2008, telah mengatakan lain, minimal kondisi bursa di berbagai belahan dunia mengalami imbas negatif dengan merosotnya indeks di bursa2 Amerika.
Jadi? Apakah decoupling hanya bicara soal ekonomi riil dan tidak berlaku di dalam industri keuangan global? No sir... nope...
Tepatnya, klaim terjadinya decoupling yang lalu tidak akurat dan terbukti tidak valid di dalam situasi ekonomi Amerika mengalami turbulensi yang signifikan.
Decoupling atau recoupling atau coupling - menurut saya ini bukanlah istilah yang bagus untuk menggambarkan ekonomi global maupun ekonomi regional. Harus dipahami bahwa globalisasi sudah mengurat dan mengakar ke dalam sendi-sendi ekonomi di seluruh belahan dunia. Sehingga tidak perlu adanya strategy khusus untuk menciptakan decoupling, namun tidak perlu pula memaksakan recoupling melalui economic partnership agreement...
Demikian pula dengan ekonomi tanah air Indonesia, decoupling belum menjadi bagian penting dalam pembahasan situasi ekonomi, tapi disadari atau tidak imbas global punya pengaruh penting dalam pembentukan situasi ekonomi tanah air. Decoupling mungkin tidak penting buat mengukur kinerja ekonomi Indonesia, namun perlu diketahui bahwa istilah ini lahir untuk menyatakan bahwa ekonomi global bukan untuk dilawan dan dikalahkan namun untuk dijadikan teman pembawa berkah.
Amin? Amin!
Monday, January 28, 2008
World Economic Forum 2008 - The Davos Question
Ada hal yang menarik pada pertemuan tahunan World Economic Forum 2008 yang diselenggarakan di Davos, Switzerland awal tahun ini, dimana forum ini melakukan experiment dengan menggunakan YouTube sebagai media untuk menyampaikan questionnaire dimana response juga menggunakan media yang sama.
Dari hasil search dengan menggunakan kata Davos di YouTube, ada ratusan postingan video yang terkait dengan kata ini dan cukup banyak yang di upload akhir2 ini sebagai response dari The Davos Question. Menurut berita di World Economic Forum, beberapa yang turut mengirim video responses adalah, President Shimon Peres of Israel, President Abdoulaye Wade of Senegal, President Hamid Karzai of Afghanistan; mantanUS Secretary of State Henry A. Kissinger dan rock star Bono. Terus terang saya juga belum melihat video response tersebut, tapi posting ini juga berfungsi sebagai reminder saya untuk melihat video tersebut pada kesempatan mendatang.
Ini salah satu video yang telah dilihat lebih dari satu juta kali dengan komentar berjumlah ribuan. Ini sungguh luar biasa karena minat pengguna YouTube untuk melihat video ini melebihi beberapa video musik atau event yang sedang populer.
Berminat untuk turut berpatisipasi?
Tuesday, November 20, 2007
Inside Yogya and the Solo Soul





Thursday, September 20, 2007
Globally Local - Locally Global
Think about McDonald and Kentucky Fried Chicken, is it a GL or LG? In my case, GLLG!
When I am in Jakarta, it is GL and it is LG when I am in Tokyo. I guess I am hungry! Anyone wants to eat?
Monday, August 20, 2007
Japan Indonesia EPA Part 2 - Energy Trade and Cool Earth 50
Japanese Prime Minister Shinzo Abe and Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono signed a bilateral free trade agreement or the EPA on
I understand that one of the most important issues in this EPA is the tariff and barrier in trading sector. Unfortunately, I have less interest to talk about this issue. In short, any FTA always aims to create a better trading environment by reducing restrictions and barriers. I would say this is a classic premise while the evidences show tough, hard and complicated rounds in most of FTA negotiations and implementations. We need more evidences to see whether this tariff and barrier issues could improve the trading sector between two countries in coming years.
On my view, energy trading and environmental issues are more important considering the fact that
LNG contracts, the development of coal-fired power plants in Indonesia and environmental issues
Most of LNG contracts between these two countries will expire in 2010 and the government of Indonesia (GoI) has showed its preference to place priority on the supply of natural gas to its domestic market as the impact of increasing demand of energy in domestic market and acute power problem. In the other side, the GoI also decided to continue implementing its national program ’10,000 MW’ by constructing (most of it) coal-fired power plants in several areas of Indonesia.
There is a strong interest from many related parties in
The GoI’s decision in developing its energy source is to use the coal-fired power plant. The coal-fired power plant is notorious in creating pollution and we can easily find the proof of environmental damage caused by coal mining. In simple words, coal pollutes when it is mined, transported to the power plant (through in-land, river and sea), stored, and burned. The worst thing having this power plant project is the fact that it will use low calories coal only!, simply because it is cheap and giving a large cut of firing cost. As a comparison, many developed countries still use coal-fired power plant with high calories (note: very expensive and scarce) coal that cause insignificant pollution during burning process.
So, what would be the best role for
Second thing is about “Cool Earth 50” an initiative taken by
How one country with thousands MW low rank coal-fired power plant would participate in a movement of global emission reduction? (note: 500 megawatt power plant needs at least 1.4 million tons of high rank coal per year). Let’s see!
Originally posted in Unpublished Dream. First part only available in Unpublished Dream.


